Selasa 30 November 2021, SMA Negeri 1 Timpeh bersama Puskesmas Timpeh melaksanakan imunisasi TT(Tetanus Toksoid) yang diikuti seluruh siswa dan siswi kelas X. Imunisasi adalah proses untuk membuat seseorang imun atau kebal terhadap suatu penyakit. Proses ini dilakukan dengan cara menyuntikkan vaksin yang bertujuan untuk membentuk daya tahan tubuh terhadap penyakit tertentu.
Sedangkan tujuan dari imunisasi ini adalah untuk melindungi diri dari berbagai penyakit yang berbahaya atau berisiko menyebabkan kematian. Imunisasi juga bisa menjadi cara untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
Hal ini penting untuk mencegah penyebaran penyakit pada orang yang tidak bisa menjalani imunisasi. Dengan kata lain, makin banyak orang yang mendapatkan imunisasi berarti makin sedikit pula orang yang terinfeksi penyakit.
Penting untuk diingat, seseorang yang pernah mengalami reaksi alergi parah pada imunisasi sebelumnya atau alergi terhadap bahan yang terkandung dalam vaksin, tidak boleh mendapatkan imunisasi. Penderita kanker atau penyakit autoimun yang memiliki daya tahan tubuh rendah juga tidak boleh menjalani imunisasi.
Vaksinasi tetanus berisi tetanus toxoid, yaitu zat yang bentuk kimiawinya menyerupai racun tetanus tetapi tidak merusak saraf. Ketika diberikan vaksin tetanus, sistem kekebalan tubuh seseorang akan membentuk zat antibodi terhadap racun yang dihasilkan oleh kuman tetanus.
Dengan demikian, ketika terinfeksi bakteri tetanus di kemudian hari, tubuh orang yang telah mendapatkan vaksin tetanus akan lebih kuat melawan bakteri penyebab tetanus. Sedangkan penyakit tetanus disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini banyak terdapat di tanah, lumpur, dan kotoran hewan atau manusia. Bakteri penyebab tetanus dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka atau area terbuka pada kulit, misalnya akibat luka tusukan benda tajam yang kotor.
Vaksin DPT merupakan vaksin kombinasi yang digunakan untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Pada anak, vaksin ini diberikan sebanyak 5 kali. Tiga dosis awal diberikan saat usianya 2, 3, dan 4 bulan, lalu dilanjutkan dengan pemberian vaksin ulangan atau booster saat anak berusia 18 bulan dan 5 tahun.
Selain DPT, tersedia juga vaksin DPT/Hib yang sama-sama efektif mencegah tetanus. Vaksin DPT/Hib memiliki jadwal pemberian yang sama dengan vaksin DPT.
Hanya saja, selain melindungi dari penyakit difteri, tetanus, dan pertusis, vaksin ini juga menghasilkan kekebalan terhadap bakteri Haemophilus influenzae type b yang menjadi penyebab sejumlah infeksi berat, seperti meningitis dan pneumonia.
Vaksin TD (tetanus dan difteri) atau TDaP (tetanus, difteri, pertusis) merupakan vaksin lanjutan dan diberikan sebagai dosis keenam dan ketujuh, pada anak yang sebelumnya rutin menerima vaksin DPT atau DPT/Hib. Pemberiannya dilakukan ketika anak berusia 10–12 tahun dan 18 tahun.
Vaksin TD juga dapat diberikan pada anak di atas usia 10 tahun dan orang dewasa yang belum pernah menerima vaksin tetanus sebelumnya. Pada orang yang belum pernah mendapatkan vaksin tetanus sebelumnya, vaksin TD atau TDaP diberikan 1 kali dengan dosis pemberian vaksin TD ulang setiap 10 tahun.
Selain vaksin-vaksin di atas, vaksin tetanus juga ada yang tersedia dalam kombinasi 5 vaksin, yaitu vaksin DPT-HIB-HB. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus, infeksi Haemophilus influenza type B, serta hepatitis B. Jadwal pemberian vaksin ini sama dengan vaksin DPT/Hib.
Berikut beberapa efek samping berat yang mungkin terjadi berdasarkan jenis vaksinnya.
Oleh karena itu, sebelum Anda melakukan imunisasi, selalu beri tahu dokter atau perawat jika memiliki alergi atau pernah mengalami reaksi alergi terhadap vaksin sebelumnya.
Hal ini karena akan ada kemungkinan seseorang bisa alergi terhadap vaksin, tetapi sangat langka.
Center for Disease Control and Prevention (CDC) menuliskan dalam situs resminya bahwa ada beberapa efek samping imunisasi di level sedang yang sangat jarang terjadi.
Beberapa tandanya yaitu sebagai berikut.
Pada anak yang memiliki masalah sistem kekebalan tubuh yang serius, vaksin MMR bisa menyebabkan infeksi.
Bahkan pada kondisi yang sangat parah bisa mengancam kesehatan jiwa.
Dokter biasanya akan menyarankan orang dengan masalah sistem kekebalan tubuh yang serius tidak boleh diberi vaksin MMR.
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi reaksi vaksinasi di rumah adalah sebagai berikut:
Kunjungi link lainnya
https://www.alodokter.com/imunisasi
https://www.alodokter.com/kegunaan-vaksin-tetanus-dan-kapan-harus-mendapatkannya
https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/imunisasi/efek-samping-imunisasi/
Jadilah yang pertama berkomentar di sini