Nilai nilai kepahlawanan tidak akan pernah memudar, namun pengamalannya yang sudah semakin hilang pada generasi mudanya. SMAN 1 Mencoba bangkit melalui literasi yang sudah digaungkan melalui berbagai bentuk lomba salah satunya lomba essay kepahlawanan yang berhasil menyisihkan 1500 naskah seluruh Indonesia SMAN 1 TIMPEH mampu mempersembahkan Juara II tingkat nasional mewakili Sumatra Barat. Terimakasih kepada Kepala Sekolah Ibu Ida Rosiani, S.Pd beserta guru pembimbing Ibu Setya Ningsih, S.S dan Ibu Nurul Hasanah, S.Pd dan keluarga besar SMAN 1 Timpeh yang telah mendukung dan memfasilitasi berlangsungnya perlombaan ini dengan lancar.
Gambar 1. Bersama Guru Pembimbing (Dokumen Pribadi)
Den Haag dalam Genggaman Literasi Mohammad Hatta
Oleh : Erza Abianza
(Siswa SMA Negeri 1 Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat)
“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku Bebas.”
(Mohammad Hatta)
Arus globalisasi semakin kuat merambah di segala bidang kehidupan yang dirasakan seluruh dunia. Dampak yang sangat kentara adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Teknologi informasi komunikasi memiliki dampak positif yang luar biasa jika digunakan sesuai dengan ketentuan dan filter nilai-nilai religius. Akan tetapi, sebaliknya juga dapat menjadi musuh bagi diri jika digunakan secara bebas tanpa terkendali. Maka selalu diperlukan usaha diri agar selalu dapat terhindar dari “budak” tekhnologi.
Salah satu dampak negatif penggunaan TIK seperti gadget (sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus, contohnya handphone atau smarphone) adalah hilangnya minat dan kecintaan generasi muda terhadap membaca dan menulis. Sayangnya generasi milenial saat ini salah menyikapi perkembangan globalisasi yang terjadi. Seperti yang terjadi pada pelajar SMAN 1 Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat saat ini.
Berdasarkan angket yang disebarkan kepada 50 siswa secara random, rata-rata mereka menggunakan handphone sebanyak 15 orang siswa selama 8-15 jam sehari, 3 orang selama 24 jam, 15 orang selama 1-4 jam sehari. Rata-rata 30 orang dari mereka menggunakan untuk sosial media (facebook, whatshap, Instagram, Tiktok dan game). Sebanyak 21 orang menggunakan untuk proses belajar dan media sosial. Berarti, semua siswa yang menjadi sampel menggunakan gadget untuk media sosial. Walaupun mereka menggunakan untuk belajar, untuk media sosialnya tetap dilakukan.
Klik disini untuk baca selengkapnya.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini